1 suami 2 istri 3 anak : AKUR
Juli 23, 2007
mamaendang
Anak-anaku memanggil aku selalu dengan sebutan mamaendang, hal ini pernah membuat heran temanku dan bertanya ke anakku ; kenapa sih manggilnya kok mamendang? kenapa gak manggil mama aja?
Anakku menjawab : tante, kalo saya panggil mama aja, kan bingung soalnya banyak kan mama-mama yang lain, tapi kalo aku teriak mamaendang!! maka yang nengok pasti mamaendang aja, mama yang lain tidak perlu menanggapi panggilanku. hmm jawaban yang cukup masuk akal
Tetapi sebenarnya bukan itu maksudku mengajari anak-anaku memanggil aku dengan sebutan mamaendang.
Aku punya banyak ponakan dari kakak dan adik iparku, nah supaya kami semua akrab kami sepakat bahwa tidak ada beda antara anak dan ponakan sehingga dalam keluarga kami tidak ada istilah tante, om, bude, pakde, mak etek, pak etek, mak uwo, pak uwo, paklik, bulik, paman, bibi, dan sebagainya
Sehingga anak-anakku selain punya mamaendang dan pawan juga punya punya mama iza, mamaning, mamapi, bundais, bundai’, papadi, papano, papaman, dan ayahvan, ibuknik, bapakyok, bunuk, ayahnul dan ternyata dengan panggilan ini kami jadi dekat dan sayang dengan semua keponakan tanpa membedakan kasih sayangnya dengan anak
Suatu hari aku(mamaendang), dua anakku(irma dan aldo), satu keponakannku(andi), satu kakak iparku(mamaiza) dan suamiku(pawan) pergi ke jawa dengan kereta api, kami mengambil 6 tempat duduk, 4 kursi kami buat berhadapan, yg 2 kursi diseberang lorong
Disepanjang perjalanan anak-anak sangat gembira dan tiada henti-henti bercanda sehingga cukup menarik perhatian penumpang lain digerbong kami, karena suara mereka yang kadang cukup keras, sering kali terdengar kalimat-kalimat :
- Pawan tolong dong selimutku
- Mama iza minta kue yang ada kejunya dong
- Mamaendang bacain cerita dong
- dan bla… bla…. yg jelas kata-kata pawan, mamaiza dan mamaendang terdengar berulang-ulang dikumanangkan dari mulut anak-anak, dan menggema ditelinga para penumpang digerbong kami, (unutng ga da yang complain berisik, ada kali tapi ngedumel he..he..)
Kereta berjalan dengan ritme yang stabil dan hampir tidak terasa goyangannya
Namun Karena dingin AC kereta membuat aku berulang-ulang ketoilet, dan saat mau keluar dari toilet (setelah kesekian kalinya ketoilet) dan mau membuka pintu, tiba-tia tanpa sengaja aku mendegar suara orang bercakap didepan pintu toilet, yang membuat aku mengurungkan niat untuk keluar,
Begini obrolan yang kudengar : ‘Gila ya, hebat banget yang namanya pawan itu, bisa mengakurkan 2 istrinya yang bernama mamaendang dan mamaiza, ngiri deh’ Gedubraaa…akk matek aku, jadi gara2 panggilan mama ini membuat orang berpikir kita istri muda dan istri tua ha..ha…
Monggo…..bayangkan sendiri wajah kedua pengosip tersebut ketika melihat mukaku nonggol keluar dari pintu toilet?????
Cerita belum selesai,
Ketika berjalan dari toilet untuk menuju ketempat dudukku, terpaksa aku harus berhenti sejenak karena, ada suara dikursi (2 kursi dibelakang kami) yang hendak kulewati : ‘Eh kayaknya mereka itu istri tua dan istri muda ya !’ Gedubraa..kkk lagi!! untung.. gw ga jatuh gedubrak…
Ah seandainya benar suamiku punya istri 2, siapkah aku? bisakah aku akur dengan maduku? bisakah aku menyayangi anak2 tiriku? Ah kayakya berat dan belum bisa, Ah aku hanya seorang istri biasa……
Entry Filed under: News non gosip
25 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
1.
kopidangdut | Juli 24, 2007 at 6:15 am
hehehe…
mana yang istri mudanya, mama?
2.
deKing | Juli 24, 2007 at 9:01 am
Hehehehe…wah apalagi kalau ada mama-mama yang lain.
Bisa2 disangka beristri 5
3.
k'baca | Juli 24, 2007 at 10:22 am
mah,
kalo ada “madu” ada “racun” mo pilih yang mana?
rate it:
4.
mamaendang | Juli 24, 2007 at 1:16 pm
pertanyaannya kopidut membuat aku menangis hik..hikk
5.
mamaendang | Juli 24, 2007 at 1:21 pm
@ deking : jangan beristri 5, nanti suamiku ditangkap, karena poligami cuma boleh 4 kan? he..he..
@ k’baca : kalo suruh pilih madu ato racun, gampang pasti jawabnya madu, yang susah kalo ditanya pilih dimadu atau diracun? Hayo jawab!!
6.
arieltulangan | Juli 25, 2007 at 2:54 am
mah..pernah lihat sinetron ‘istri untuk suamiku’ gak?. bisa dijadiin inspire’ gitu..biar akur ama madu…tapi sayang jrg ada istri kyk gitu.?:)
7.
M Shodiq Mustika | Juli 25, 2007 at 6:18 am
salam kenal
Diam-diam, bangga gak, disangka telah beristri muda?
Kalo aku sih, mmmm….. boleh juga. Liat aja di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/07/24/apakah-ini-masih-bisa-disebut-cinta/
8.
kopidangdut | Juli 25, 2007 at 6:36 am
Pasti yang senang pake celana jeans itu yang istri mudanya..
9.
julfan | Juli 25, 2007 at 8:45 am
Siapapun pasti tidak siap kalau mengikuti perasaan tentang poligami. Dasarnya adalah iman…
10.
mamaendang | Juli 25, 2007 at 11:29 am
@ Arietulangan, M.shodiq, Julfan : Tq for your coming
11.
Bobbie | Juli 25, 2007 at 1:27 pm
Ha….ha…, it’s a Nice and fun story, mam!
12.
Suluh | Juli 26, 2007 at 2:00 am
cocok nich kalau yang berpoligami…
mamasusan
mamaendang
mamaella
mamaeka..
dll
13.
yuli | Juli 26, 2007 at 4:19 am
salam kenal mama endang.
menarik juga ceritana. ehm… sebagai perempuan yang juga sudah bersuami kapankah saya siap untuk mendapat peran sebagai seorang istri tua… haha.
14.
mamaendang | Juli 26, 2007 at 1:25 pm
@ yuli : salam kenal
@ suluh : tolong nama mamaendang dikeluarkan dari daftar ya, hee..he..
15.
rianatn81 | Juli 27, 2007 at 4:03 am
ha ha ha ha ha,unik juga cara memanggilnya…
16.
sikabayan | Juli 27, 2007 at 7:34 pm
euh… mamaiteung… kurang pas rasanya teh… nyi iteung lebih enak didengar nyah… euh… berarti kabayan mah cuma bisa nyi iteung yah?… mamamia…
17.
suprie | Juli 28, 2007 at 8:11 am
Malah enak Bu…Tiga hari Istri tua yang masak, tiga hari Istri muda…dan yang sehari makan diluar. Heheheheh…
18.
jeng Endang | Juli 30, 2007 at 12:13 am
maksud hati utk menyamakan rasa dalam keluarga, apa daya dipandang berbeda oleh org lain…sebenernya sih kalo utk nyamakan rasa gak perlu panggilan, tp dari hatinya yg bersangkutan ya…
btw, mamaendang ini yg pernah mampir blogku yah? maaf yah mbak baru kesini…
19.
Freddy Hernawan | Agustus 1, 2007 at 8:40 am
“mama endang”, hehe.. sebutan itu akan aku sebutkan juga buat istriku
20.
mamaendang | Agustus 2, 2007 at 1:46 pm
@ jeng endang : tq udah mampir
@ Freddy : nama endang emang pasaran he..he… ga heran kalo banyak yang punya mamaendang2 yang lain ha..ha.. salam buat nyonya ya!
21.
peyek | Agustus 2, 2007 at 3:32 pm
wah kalo semua kayak mamaendang
bakalan nggak berisik dah!
22.
paririan | Agustus 6, 2007 at 5:14 am
hehe…..bisa diconto neh
23.
anggara | Agustus 7, 2007 at 8:57 am
repot juga, terkadang orang melihat dari luarnya aja sih mam…dan pasti nggak nyangka kalau semua bersaudara
24.
mamaendang | Agustus 8, 2007 at 12:39 pm
@ peyek : kalo makan peyek enake pakai sego pecel, tapi pasti berisik deh, kecuali kalo mlempem he..he..
@ paririan : tq dah mampir, semoga sukses nyontohnya
@ anggara : Biarin aja, anjing menggonggong, kafilah berlalu
25.
B Ali | Agustus 24, 2007 at 9:29 am
Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.
Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.
Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.
Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.
Jadi umat muslim terjebak.